Ada satu pertanyaan sederhana yang sering muncul dalam percakapan bisnis sehari-hari, namun jarang benar-benar dijawab dengan jujur: mengapa begitu banyak strategi terdengar indah di atas kertas, tetapi melemah saat bertemu realitas? Di ruang rapat, strategi kerap dipresentasikan dengan grafik yang rapi dan istilah yang meyakinkan. Namun, ketika hari berganti dan pekerjaan berjalan, yang tersisa justru kebingungan kecil yang terakumulasi. Dari pengamatan itu, muncul kesadaran bahwa strategi bukan soal kecanggihan, melainkan soal keterlaksanaan.
Dalam banyak organisasi, strategi sering diperlakukan sebagai dokumen final. Ia dicetak, disimpan, lalu sesekali dikutip. Padahal, secara analitis, strategi seharusnya dipahami sebagai proses berpikir yang terus bergerak. Strategi bukan hanya menjawab “ke mana kita ingin pergi”, tetapi juga “bagaimana kita melangkah besok pagi”. Di titik ini, pendekatan praktis menjadi krusial karena ia menjembatani jarak antara gagasan besar dan tindakan kecil yang berulang.
Saya teringat sebuah cerita dari seorang pemilik usaha menengah yang pernah berkata bahwa strategi terbaiknya lahir bukan dari seminar mahal, melainkan dari kegelisahan saat toko sepi. Ia duduk, mencatat apa yang benar-benar bisa diubah minggu itu: jam buka, cara menyapa pelanggan, hingga alur kerja karyawan. Narasi ini sederhana, namun menyimpan pelajaran penting: strategi yang mudah dieksekusi sering kali berangkat dari pengalaman konkret, bukan dari asumsi abstrak.
Jika ditarik lebih jauh, pendekatan praktis dalam strategi bisnis menuntut kejujuran struktural. Kita perlu berani mengakui kapasitas tim, keterbatasan sumber daya, dan ritme organisasi. Argumentasinya jelas: strategi yang terlalu ambisius tanpa mempertimbangkan konteks justru menciptakan kelelahan kolektif. Dalam jangka panjang, kelelahan ini menggerogoti disiplin eksekusi, sesuatu yang sering dilupakan dalam perencanaan strategis.
Dari sudut pandang observatif, bisnis yang bertahan lama biasanya memiliki strategi yang terdengar “biasa saja”. Tidak selalu disruptif, tidak selalu penuh jargon. Namun, strategi itu dipahami oleh orang-orang yang menjalankannya. Di sinilah pendekatan praktis menunjukkan nilainya. Strategi diterjemahkan menjadi prioritas harian, indikator sederhana, dan keputusan yang konsisten, bukan sekadar visi yang mengawang.
Berpindah sedikit ke ranah reflektif, kita bisa bertanya: apakah strategi harus selalu besar agar bermakna? Pengalaman menunjukkan sebaliknya. Strategi yang baik sering kali terasa tenang. Ia tidak memaksa perubahan drastis, melainkan mengarahkan fokus. Dalam ketenangan itulah, eksekusi menemukan ritmenya. Pendekatan praktis membantu menurunkan ketegangan antara harapan dan kenyataan, sehingga strategi tidak terasa sebagai beban.
Secara analitis ringan, menyusun strategi yang mudah dieksekusi dapat dimulai dari pemilahan masalah. Bukan semua hal harus diselesaikan sekaligus. Strategi praktis memilih sedikit hal penting, lalu mengerjakannya dengan disiplin. Prinsip ini terdengar sederhana, tetapi justru diabaikan. Banyak strategi gagal karena mencoba menjawab terlalu banyak pertanyaan dalam satu waktu.
Ada pula dimensi naratif yang sering luput: strategi perlu memiliki cerita yang masuk akal bagi pelakunya. Bukan cerita heroik, melainkan cerita yang bisa dihidupi. Ketika karyawan memahami mengapa suatu langkah diambil, eksekusi menjadi lebih alami. Pendekatan praktis mendorong pemimpin untuk menyusun strategi sebagai alur cerita yang logis, bukan sebagai instruksi satu arah.
Dalam argumen yang lebih tegas, strategi yang tidak mudah dieksekusi sebenarnya bukan strategi, melainkan angan-angan. Bisnis membutuhkan kerangka pikir yang dapat diuji setiap hari. Pendekatan praktis memungkinkan evaluasi berkelanjutan: apa yang berhasil, apa yang perlu disesuaikan. Fleksibilitas ini penting untuk keberlanjutan jangka panjang, terutama di lingkungan bisnis yang berubah cepat.
Mengamati dinamika usaha kecil hingga korporasi besar, terlihat pola serupa: strategi yang hidup adalah strategi yang sering dibicarakan dalam konteks kerja nyata. Ia hadir dalam rapat mingguan, dalam diskusi informal, bahkan dalam keluhan. Pendekatan praktis membuka ruang dialog, sehingga strategi tidak terasing dari realitas operasional.
Menariknya, pendekatan ini juga mengubah cara kita memandang kegagalan. Dalam kerangka praktis, kegagalan bukan akhir, melainkan umpan balik. Refleksi semacam ini membantu organisasi belajar tanpa drama berlebihan. Strategi berkembang bukan karena sempurna sejak awal, tetapi karena terus disesuaikan dengan pengalaman.
Pada akhirnya, menyusun strategi bisnis dengan pendekatan praktis adalah latihan kerendahan hati intelektual. Ia mengajak kita menurunkan ego, mendengarkan realitas, dan bergerak perlahan namun pasti. Dalam jangka panjang, justru pendekatan inilah yang memberi daya tahan. Strategi tidak lagi menjadi slogan, melainkan kebiasaan berpikir dan bertindak.
Mungkin, di titik ini, kita bisa melihat strategi bukan sebagai jawaban final, tetapi sebagai pertanyaan yang terus diperbarui. Bagaimana agar langkah hari ini tetap relevan esok hari? Pendekatan praktis tidak menjanjikan kemegahan, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih berharga: keberlanjutan yang masuk akal. Dari sanalah bisnis bertumbuh, bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan ketekunan yang tenang.












