1. Tidak Punya Tujuan Investasi yang Jelas
Banyak investor pemula langsung membeli aset hanya karena ikut-ikutan. Tanpa tujuan, sulit menentukan instrumen dan strategi yang tepat.
Cara menghindarinya: tentukan tujuan yang spesifik (misalnya dana pendidikan 5 tahun, pensiun, atau beli rumah). Selaraskan tujuan dengan jangka waktu dan profil risiko.
2. Kurang Memahami Risiko
Sering menganggap investasi hanya soal cuan. Padahal setiap instrumen punya risiko berbeda.
Cara menghindarinya: pahami konsep risk-return, pelajari profil risiko pribadi, dan sesuaikan alokasi aset.
3. Ikut Tren Tanpa Riset
FOMO (Fear of Missing Out) membuat investor membeli aset ketika harganya sedang hype.
Cara menghindarinya: lakukan riset dasar—baca laporan keuangan, cek fundamental, dan pahami prospek jangka panjang sebelum membeli.
4. Menaruh Semua Dana di Satu Instrumen
Kurangnya diversifikasi bisa memperbesar kerugian jika satu aset turun.
Cara menghindarinya: terapkan diversifikasi sesuai kebutuhan, misalnya kombinasi saham, obligasi, deposito, atau reksa dana.
5. Tidak Memiliki Rencana Exit
Banyak pemula bingung kapan harus menjual atau menambah posisi. Akhirnya, keputusan emosional sering merugikan.
Cara menghindarinya: tentukan target take profit dan cut loss sejak awal.
6. Menggunakan Dana Panas
Investasi menggunakan uang yang seharusnya untuk kebutuhan pokok atau dana darurat.
Cara menghindarinya: siapkan dana darurat terlebih dahulu dan gunakan uang khusus investasi yang siap “diparkir” dalam jangka panjang.
7. Terlalu Sering Trading
Aktivitas jual beli berlebihan tanpa strategi meningkatkan biaya transaksi dan risiko salah keputusan.
Cara menghindarinya: fokus pada strategi jangka panjang dan disiplin mengikuti rencana investasi.
8. Tidak Mengevaluasi Portofolio
Portofolio dibiarkan tanpa pemantauan, sehingga tidak sesuai lagi dengan kondisi atau tujuan terbaru.
Cara menghindarinya: lakukan evaluasi berkala, misalnya tiap 3–6 bulan, lalu sesuaikan kembali (rebalancing) jika perlu.












